June 4, 2026

Pada tanggal 9–12 April 2025, Asia Pacific Orthopaedic Association (APOA) Congress yang bertemakan Artificial Intelligence, Robotics, and Augmented Reality sukses diselenggarakan di Cairns, Australia. Kongres ini menjadi ajang penting dalam perkembangan ilmu ortopedi di kawasan Asia Pasifik, dengan berbagai topik mutakhir yang dibahas oleh para ahli dari seluruh dunia.

Acara diselenggarakan di Cairns Convention Centre yang terletak pada pusat kota Cairns Australia. Rangkaian kegiatan scientific session dalam APOA Congress 2025 secara resmi dimulai pada hari Kamis, 10 April 2025. Pada hari tersebut, berbagai topik penting dibahas, di antaranya mengenai APOA Young Surgeons Forum (YSF), arthroplasty, foot and ankle, hip, panduan how to publish your work, knee, osteoporosis, paediatrics, spine, trauma, serta sesi presentasi free papers. Diskusi berjalan dinamis dengan menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam masing-masing bidang.

Pada hari Jumat, 11 April 2025, pembahasan dilanjutkan dengan cakupan topik yang lebih luas seperti AO Trauma, foot and ankle, general orthopaedics, presentasi Young Ambassadors Papers untuk bidang hand and upper limb, hip, infection, osteoporosis, spine, sports, YS
leadership, dan sesi free papers. Setiap sesi dipenuhi dengan pertukaran ide dan pengalaman klinis dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

Hari Sabtu, 12 April 2025, menjadi penutup rangkaian scientific session dengan fokus pada topik-topik seperti hip, knee, oncology, spine, sports, trauma, dan sesi free papers. Diskusi pada hari terakhir ini memberikan berbagai insight baru terutama dalam penanganan kasus-kasus kompleks dan inovasi teknologi di bidang ortopedi.

Kegiatan APOA juga dihadiri oleh Prof. Dr. dr. Nicolaas C. Budhiparama, PhD, SpOT (K), FICS. Beliau membawakan salah satu materi dengan judul The Importance of YSF in Attracting Young People to The APOA dan juga terpilih menjadi President dari APOA.

Universitas Hasanuddin turut berpartisipasi dalam kongres bergengsi ini. Tiga perwakilan dari Universitas Hasanuddin, yaitu dr. Leonard Christianto Singjie, dr. Rafael Marvin Yushan, dan dr. Samuel Andi Kusuma, tampil membawakan hasil penelitian di forum internasional ini.

Presentasi Para Delegasi:

dr. Leonard Christianto Singjie membawakan presentasi podium dengan judul “Surgical Outcomes and Complication Rates of Arthroscopic-Assisted Fixation Versus Open Fixation for Coronoid Fractures: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Dalam paparannya, dipaparkan perbandingan hasil bedah dan tingkat komplikasi antara teknik fiksasi terbuka dan teknik arthroscopic-assisted untuk fraktur koronoid, berdasarkan analisis sistematik terhadap berbagai literatur internasional.

dr. Rafael Marvin Yushan juga tampil dalam sesi presentasi podium dengan judul “Preventive Approach of Phantom Limb Pain Among Amputees: A Systematic Review.” Penelitian ini disusun bersama konsulen ortopedi Universitas Hasanuddin: dr. Muhammad Phetrus Johan, M.Kes., Ph.D., Sp.O.T.Subsp.Onk.Ort.R(K), Dr. dr. Jainal Arifin, M.Kes., Sp.O.T.Subsp.O.T.B(K), FICS, dr. Muhammad Andry Usman, Ph.D., Sp.O.T.Subsp.P.L(K), dr. Andi Dhedie Prasatia Sam, M.Kes., Sp.O.T.Subsp.T.L.B.M(K), dan dr. Moh. Asri Abidin, Sp.O.T.Subsp.Onk.Ort.R(K). Dalam presentasinya, dijelaskan berbagai pendekatan preventif yang dapat mengurangi kejadian phantom limb pain pada pasien amputasi, dengan harapan meningkatkan kualitas hidup pasien pasca operasi.

dr. Samuel Andi Kusuma berkontribusi melalui short oral presentation dengan judul “Flat Foot and Knee Pain, Is it Often Overlooked? A Systematic Review.” Penelitian ini juga melibatkan konsulen ortopedi Universitas Hasanuddin, dr. Muhammad Andry Usman, Ph.D., Sp.O.T.Subsp.P.L(K). Dalam presentasinya, diulas hubungan antara kelainan bentuk kaki datar (flat foot) dengan nyeri lutut, sebuah aspek yang sering terabaikan dalam praktik klinis sehari-hari.

Kehadiran dan kontribusi aktif para perwakilan Universitas Hasanuddin dalam APOA Congress 2025 menjadi bukti nyata komitmen institusi ini dalam mengembangkan ilmu pengetahuan ortopedi, serta memperluas jejaring kolaborasi internasional. Dengan membawa hasil penelitian berkualitas ke kancah dunia, Universitas Hasanuddin terus menunjukkan eksistensinya sebagai pusat pendidikan dan penelitian kedokteran yang berdaya saing global.